MAKALAH
KESEHATAN REPRODUKSI & KB
“Critical Thinking dalam Kesehatan Reproduksi dan KB”
DOSEN PENGAMPUH : Nuzliati T. Djama, S.SiT.M.Kes
Hetty Astri, SST.,M.Kes
Nurdiana Lante, SST.M.Kes
OLEH
NAMA :KHUSNUL
KHOTIMAH
SEMESTER : IV (Empat)
NIM :
PTE 153011150056
POLTEKES KEMENKES TERNATE
PRODI D-IV KEBIDANAN
2017
KATA
PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Segala
puji hanya bagi Allah yang telah melimpahkan Taufik, Hidayah dan InayahNya
kepada saya, sehingga saya masih dapat menghirup nafas kaislaman sampai
sekarang ini. Shalawat dan salam semoga tercurah pada junjungan kita Nabi agung
Muhammad SAW yang telah berjuang dengan semangatnya yang begitu mulia yang
telah membawa saya dari jaman Jahilliyah kepada jaman Islamiyah.
Dengan
mengucap Alhamdulillah saya dapat menyusun makalah yang berjudul “Critical Thinking dalam Kesehatan Reproduksi
dan KB ” saya ucapkan banyak terima kasih kepada Dosen Pembimbing yang
telah membimbing saya dalam setiap materi tentang Kesehatan
Reproduksi dan Keluarga Berencana, tidak lupa teman-teman yang
senantiasa saya banggakan yang semoga kita selalu dalam lindungan Allah serta
dapat berjuang dijalan Allah SWT.
Saya menyadari
tentunya makalah ini jauh dari sempurna, maka dari itu saya mohon saran dan
kritik yang sifatnya membangun tentunya. Akhirnya saya mengucapkan terima kasih
dan mohon maaf apabila dalam penulisan masih terdapat kalimat-kalimat yang
kurang dapat dipahami agar menjadi maklum.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Ternate,
16 Februari 2017
Penyusun
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kemampuan berpikir kritis merupakan
kemampuan yang sangat esensial untuk kehidupan, pekerjaan, dan berfungsi
efektif dalam semua aspek kehidupan lainnya. Berpikir kritis telah lama menjadi
tujuan pokok dalam pendidikan sejak 1942. Penelitian dan berbagai
pendapat tentang hal itu, telah menjadi topik pembicaraan dalam sepuluh tahun
terakhir ini (Patrick, 2000:1). Definisi berpikir kritis banyak dikemukakan
para ahli.
Kember (1997) menyatakan bahwa kurangnya
pemahaman pengajar tentang berpikir kritis menyebabkan adanya
kecenderungan untuk tidak mengajarkan atau melakukan penilaian ketrampilan
berpikir pada siswa. Seringkali pengajaran berpikir kritis diartikan sebagai
problem solving, meskipun kemampuan memecahkan masalah merupakan sebagian dari
kemampuan berpikir kritis (Pithers RT, Soden R., 2000).
Review yang dilakukan dari 56 literatur
tentang strategi pengajaran ketrampilan berpikir pada berbagai bidang studi
pada siswa sekolah dasar dan menengah menyimpulkan bahwa beberapa strategi pengajaran
seperti strategi pengajaran kelas dengan diskusi yang menggunakan pendekatan
pengulangan, pengayaan terhadap materi, memberikan pertanyaan yang
memerlukan jawaban pada tingkat berpikir yang lebih tinggi, memberikan
waktu siswa berpikir sebelum memberikan jawaban dilaporkan membantu
siswa dalam mengembangkan kemampuan berpikir. Dari sejumlah strategi tersebut,
yang paling baik adalah mengkombinasikan berbagai strategi.
Faktor yang menentukan
keberhasilan program pengajaran ketrampilan berpikir adalah pelatihan
untuk para pengajar. Pelatihan saja tidak akan berpengaruh terhadap peningkatan
keterampilan berpikir jika penerapannya tidak sesuai dengan harapan yang
diinginkan, tidak disertai dukungan administrasi yang memadai, serta program
yang dijalankan tidak sesuai dengan populasi siswa (Cotton K., 1991).
1.2 Tujuan
1. Tujuan
umum
Agar
mahasiswa mampu mengetahui dan memahami tentang Critical Thinking dalam
Kesehatan Reproduksi dan Kb
2. Tujuan
khusus
1. Menjelaskan Critical Thinking
(Berfikir Kritis) dalam Asuhan Kebidanan
2. Menjelaskan
permasalahan kesehatan reproduksi remaja serta menanganinya
3. Menjelaskan
permasalahan keluarga berencana (kb) serta menanganinya
1.3 Manfaat
Agar masyarakat mengetahui tentang Critical
Thinking (Berfikir Kritis) tentang Kesehatan Reproduksi dan Kb
2. Bagi
peneliti
Mengetahui dan menambah wawasan
serta pengetahuan tentang Critical Thinking dalam Kesehatan Reproduksi dan Kb
3. Bagi
institusi
Memberikan penambahan informasi
tentang Critical Thinking dalam Kesehatan Reproduksi dan Kb
BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Critical Thinking (Berfikir Kritis) dalam Asuhan Kebidanan
Berpikir kritis adalah cara berpikir
tentang subjek, konten, atau masalah yang dilakukan oleh pemikir secara aktif
dan terampil secara konseptual dan memaksakan standar yang tinggi atas
intelektualitas mereka. Dapat juga diartikan sebagai proses berfikir secara
aktif dalam menerapkan, menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi informasi
yang dikumpulkan dan atau dihasilkan melalui observasi, pengalaman, refleksi,
penalaran, atau komunikasi, sebagai acuan dalam meyakini suatu konsep dan atau
dalam melakukan tindakan. Dalam pelaksanaannya, hal ini didasarkan pada
nilai-nilai universal intelektual yang melampaui cabang suatu ilmu yang
meliputi: kejelasan, akurasi, presisi, konsistensi, relevansi, bukti suara,
alasan yang baik, kedalaman, luasnya ilmu, dan keadilan.
Dengan adanya proses
berfikir kritis diharapkan dapat:
a. Menimbulkan
pertanyaan penting terkait topik/masalah yang sedang difikirkan, kemudian dapat
merumuskan masalah dengan jelas dan tepat
b. Mengumpulkan
dan menilai informasi yang relevan, menggunakan ide-ide abstrak untuk
menafsirkan secara efektif terkait kesimpulan yang beralasan dan solusi
pemecahan masalah, menguji alternatif pemecahan masalah terhadap kriteria dan
standar yang relevan
c. Berpikir
terbuka dalam sistem pemikiran alternatif, mampu mengakui dan menilai setiap
permasalahan dengan asumsi yang beralasan, dapat menimbulkan implikasi, dan
konsekuensi praktis
d. Berkomunikasi
secara efektif dengan orang lain dalam mencari tahu solusi untuk masalah yang
kompleks.
Proses berfikir kritis memerlukan
komunikasi yang efektif dan kemampuan pemecahan masalah serta komitmen untuk
mengatasi sikap egois dan tertutup, dengan prosedur:
a. Mengenali
masalah untuk menemukan cara-cara yang bisa diterapkan guna memecahkan masalah
tersebut
b. Memahami
pentingnya prioritas dan urutan prioritas dalam pemecahan masalah
c. Mengumpulkan
dan menyusun informasi yang terkait (relevan)
d. Mengenali
asumsi yang tak tertulis dan nilai-nilai
e. Memahami
dan menggunakan bahasa dengan akurat, jelas, dan tajam
f. Menafsirkan
data untuk menilai bukti dan mengevaluasi argument/ pendapat
g. Menyadari
keberadaan hubungan logis antara proposisi
h. Menarik
kesimpulan dan generalisasi yang dibenarkan
i. Menguji
kesimpulan dan generalisasi masalah
j. Merekonstruksi
pola yang telah diyakini atas dasar pengalaman yang lebih luas
k. Memberikan
penilaian yang akurat tentang hal-hal tertentu dan kualitas dalam kehidupan
sehari-hari.
Singkatnya, tiga kunci utama untuk dapat
berfikir kritis: RED (Recognize assumptions, Evaluate arguments dan Draw
conclusions) = mengenali masalah, menilai beberapa pendapat, dan menarik
kesimpulan. Dalam menyimpulkan hasil pemikiran kritis, diperlukan upaya gigih
untuk memeriksa setiap keyakinan atau pemahaman akan pengetahuan berdasarkan
dukungan bukti ilmiah (evidence based) yang mendukung kecenderungan pengambilan
kesimpulan tersebut.
Proses berfikir kritis merupakan
kerangka dasar bidan dalam memberikan asuhan kebidanan, dalam bingkai manajemen
kebidanan. Sehingga, apabila bidan memberikan asuhan kebidanan kepada klien
dengan menerapkan prinsip-prinsip manajemen kebidanan dengan sistematis dan
terpola, maka bidan tersebut telah menerapkan proses berfikir kritis. Penerapan
dalam asuhan kebidanan ibu hamil adalah dengan melaksanakan antenatal care
sesuai dengan program yang telah disepakati sebagai upaya pencegahan dan
penanganan secara dini penyulit dan kegawatdaruratan yang mungkin terjadi pada saat
kehamilan, dengan menerapkan manajemen kebidanan, sehingga diharapkan proses
kehamilan dapat berjalan dengan baik, ibu dapat melahirkan bayinya dengan sehat
dan selamat.
2.2 Permasalahan Kesehatan Reproduksi Remaja dan Menanganinya
Kesehatan
reproduksi remaja adalah suatu kondisi yang sehat yang menyangkut system,
fungsi, dan proses reproduksi yang dimiliki oleh remaja. Kaum remaja Indonesia
saat ini mengalami lingkungan sosial yang sangat berbeda daripada orangtuanya.
Dewasa ini, kaum remaja lebih bebas mengekspresikan dirinya, dan telah
mengembangkan kebudayaan dan bahasa khusus antara grupnya. Sikap-sikap kaum
remaja atas seksualitas dan soal seks ternyata lebih liberal daripada orang
tuanya, dengan jauh lebih banyak kesempatan mengembangkan hubungan lawan jenis,
berpacaran, sampai melakukan hubungan seks.
Adapun masalah kesehatan reproduksi remaja yaitu
sebagai berikut:
1. Masalah Kehamilan Remaja
Kehamilan
usia dini memuat risiko yang tidak kalah berat. Pasalnya, emosional ibu belum
stabil dan ibu mudah tegang. Sementara kecacatan kelahiran bisa muncul akibat
ketegangan saat dalam kandungan, adanya rasa penolakan secara emosional ketika
si ibu mengandung bayinya.
2. Masalah Aborsi
Aborsi
memiliki resiko yang tinggi terhadap kesehatan maupun keselamatan seorang
wanita. Tidak benar jika dikatakan bahwa jika seseorang melakukan aborsi tidak
merasakan apa-apa dan langsung boleh pulang. Ini adalah informasi yang sangat
menyesatkan bagi setiap wanita, terutama mereka yang sedang kebingungan karena
tidak menginginkan kehamilan yang sudah terjadi.
Adapun
solusi dan strategi yang ditawarkan dan kedepannya bisa diterapkan untuk
permasalahan kesehatan reproduksi remaja adalah sebagai berikut:
a) Menciptakan kebijakan yang
melibatkan remaja baik sebagai partisipan aktif maupun pasif. Tahap awal
penentuan kebijakan dalam penanggulangan kesehatan reproduksi remaja adalah
mengerti dunia remaja itu sendiri. Pemerintah seharusnya mengadakan survei dan
penelitian tentang kondisi kesehatan reproduksi remaja di Indonesia. Penelitian
sebaiknya dilakukan menyeluruh di semua wilayah Indonesia dan tidak boleh hanya
memilih beberapa daerah sebagai cluster sampling. Setiap daerah memiliki pola
hidup dan kebudayaan yang berbeda serta tingkat perkembangan yang berbeda
sehingga secara tidak langsung pengaruh globalisasi dan arus informasi terhadap
kesehatan reproduksi berbeda pula. Sebagai contoh kota Jakarta mungkin masih
lebih baik dibandingkan kota Malang karena informasi yang diterima berbeda.
b) Menyusun suatu Undang-undang
dan peraturan pemerintah yang didalamnya membahas kesehatan reproduksi. Isi
kebijakan sebaiknya tidak hanya hukuman atau denda bagi pelanggar kesehatan
reproduksi tetapi akan lebih baik bila didalamnya ditekankan pada strategi promotif
dan preventif terhadap masalah kesehatan reproduksi yang ada.
c) Pelayanan-pelayanan kesehatan bagi remaja sebaiknya tidak hanya
mengenai aspek medis kesehatan reproduksi, tetapi hendaknya juga menyangkut
hubungan personal dan menyangkut nilai-nilai moral melalui Pendidik sebaya
(Peer Educator).
d) Menggalang kerja sama dengan semua
stakeholder baik pemerintah, swasta, LSM, organisasi profesi serta organisasi
kemasyarakatan berdasarkan prinsip kemitraan dalam penyelenggaraan program dan
pembinaan remaja.
e) Melakukan kampanye Kesehatan
Reproduksi Remaja dengan Film/Video Komunitas. Strategi ini kedepannya perlu
ditingkatkan mengingat hasil yang didapatkan cukup efektif karena remaja
cenderung akan lebih merespon dan tertarik untuk belajar tentang kesehatan
reproduksi nya melalui media film dan video.
f) Pemberian pengetahuan
dasar kesehatan reproduksi kepada remaja agar mereka mempunyai kesehatan
reproduksi yang baik. Pengetahuan yang diberikan antara lain terkait:
Tumbuh kembang remaja: perubahan fisik/psikis pada
remaja, masa subur, anemi dan kesehatan reproduksi
Kehamilan dan melahirkan: usia ideal untuk hamil,
bahaya hamil pada usia muda, berbagai aspek kehamilan tak diinginkan (KTD) dan
abortus
Pendidikan seks bagi remaja: pengertian seks, perilaku
seksual, akibat pendidikan seks dan keragaman seks
Penyakit menular seksual dan HIV/AIDS
Kekerasan seksual dan bagaimana menghindarinya
Bahaya narkoba dan miras pada kesehatan reproduksi
Pengaruh sosial dan media terhadap perilaku seksual
Kemampuan berkomunikasi: memperkuat kepercayaan diri
dan bagaimana bersifat asertif
Hak-hak reproduksi dan jender.
g) Memperbaiki komunikasi antar orang tua dan anak. Empowering keluarga
untuk meningkatkan ketahanan non fisik menghadapi arus globalisasi dengan cara
memperkuat sistem agama, nilai dan norma di dalam keluarga merupakan alternatif
utama. Keluarga bertugas mempertebal iman remaja dan pemuda dengan meningkatkan
pemahaman nilai-nilai agama, norma, budi pekerti dan sopan santun
h) Dari pihak pemerintah juga diharapkan adanya kegiatan berwawasan
nasional misalnya memperketat sensor arus informasi dan budaya asing, menunjang
pembentukan sarana bagi pengembangan remaja dan lain-lain.
3. Kanker
serviks
Kanker serviks adalah penyakit
kanker yang terjadi pada daerah leher rahim. Yaitu daerah pada organ reproduksi
wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim. Letaknya antara rahim (uterus)
dengan liang senggama wanita (vagina). Kanker ini 99,7% disebabkan oleh human
papilloma virus (HPV) onkogenik, yang menyerang leher rahim. Berawal terjadi
pada leher rahim, apabila telah memasuki tahap lanjut, kanker ini bisa menyebar
ke organ-organ lain di seluruh tubuh penderita.
Solusi/Pencegahannya:
Meski menempati peringkat
tertinggi di antara berbagai jenis penyakit kanker yang menyebabkan kematian,
kanker serviks merupakan satu-satunya jenis kanker yang telah diketahui
penyebabnya. Karena itu, upaya pencegahannya pun sangat mungkin dilakukan. Yaitu
dengan cara :
Tidak
berhubungan intim dengan pasangan yang berganti-ganti
Rajin
melakukan pap smear setiap dua tahun sekali bagi yang sudah
aktif secara seksual
Melakukan
vaksinasi HPV bagi yang belum pernah melakukan
kontak
secara seksual
Tentunya
memelihara kesehatan tubuh
3. Keputihan
Kebanyakan pada wanita mengalami keputihan. Keputihan didefinisikan sebagai
keluarnya cairan dari vagina. Cairan tersebut bervariasi dalam konsistensi
(padat,cair,kental) dalam warna (jernih, putih, kuning, hijau) dan bau (normal,
berbau). Sebagian wanita menganggap cairan yang keluar dari vagina masalah
biasa, ada juga yang menganggap masalah keputihan mengganngu aktifitas
sehari-hari.
Masalah yang perlu diwaspadai
adalah apakah keputihan tersebut normal atau ada status kelainan/penyakit.
Beberapa contoh penyebab
keputihan adalah :
Vaginitis atropik, timbal pada usia lanjut (menopause), biasanya disertai
rasa nyeri akibat kurangnya hormon estrogen.
Obat – obatan seperti : antibiótica, obat
kontrasepsi yang mengandung estrogen.
Radiasi pada organ reprodukdi, penyinaran pada
organ reproduksi dapat menyebabkan rangsangan pengeluaran cairan keputihan.
Adanya benda asing seperti adanya benang, kas
tampon atau benda lain yang secara sengaja/tidak sengaja ada di jalan lahir
(vagina).
Solusi :
1. Jagalah
kebersihan daerah organ reproduksi untuk mencegah beberapa penyakit/penyebab keputihan.
2. Jangan menggunakan obat-obatan untuk pembilasan vagina secara rutin dan berlebihan. Hal ini dapat menyebabkan hilangnya flora normal
yang ada di vagina yang bertugas melindungi terhadap kuman dari luar.
3. Hindari stress yang berlebihan.
4. Pada penderita
diabetes usakan kadar gula yang stabil.
5. Segera
ke dokter bila keputihan berlebihan.
2.3 Permasalahan Keluarga Berencana ( KB) dan Menanganinya
1. dr
Jualianto Witjaksono AS., MGO., Sp.OG(K)., Deputi Keluarga Berencana dan
Kesehatan Reproduksi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)
mengatakan Sekitar 50 persen dari seluruh pasangan yang sudah mempunyai 2 orang
anak, mengaku tidak mau punya anak lagi kemudian memasang KB. Tapi kebanyakan
dari mereka justru drop out, alias punya anak lagi. Itu kan berarti anaknya di
luar rencana. Program KB-nya gagal, Rupanya bukan hanya upaya pemasangan yang
terganjal kendala, ternyata jenis KB yang dipasangkan pada pasien pun masih
banyak yang salah sasaran.
Menanganinya:
a. Berkonsultasi
terlebih dahulu kepada dokter atau bidan mana kontrasepsi yang cocok bagi
dirinya
b. Pemasangan
alat kontrasepsi tersebut harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang terlatih
dan profesional
2.
Anggapan keliru mengenai cara-cara
pencegahan kehamilan meskipun dewasa
ini telah tersedia berbagai pilihan alat kontrasepsi, dan dengan tingkat
keberhasilan yang beragam, tidak sedikit orang yang masih keliru dalam memahami
tentang cara pencegahan kehamilan secara benar sehingga timbul mitos-mitos.
Menanganinya:
a. Petugas
kesehatan terutama bidan memberikan penyuluhan atau konseling tentang
pencegahan kehamilan secara benar menggunakan alat kontrasepsi
b. Petugas
kesehatan terutama bidan juga harus bisa mengubah dan menghapus pola pikir
masyarakat tentang mitos-mitos
c. Tidak
hanya petugas kesehatan yang memberikan penyuluhan tentang alat kontrasepsi ini
tetapi orang yang di anggap percaya pada suatu masyarakat contohnya Bu Lurah,
Bu RT atau Bu RW yang sudah di bekali ilmu tentang KB juga bisa memberikan penyuluhan kepada
warganya dan lebih dekat akan lebih baik.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berpikir
kritis adalah cara berpikir tentang subjek, konten, atau masalah yang dilakukan
oleh pemikir secara aktif dan terampil secara konseptual dan memaksakan standar
yang tinggi atas intelektualitas mereka.Masalah kesehatan reproduksi pada
remaja diantaranya yaitu masalah kehamilan remaja, masalah aborsi, kanker
servik dan keputihan dan juga berbagai masalah keluarga berencana(KB).Dalam
menangani berbagai masalah kesehatan reproduksi dan kb perlu di lakukan
critical thinkinng untuk menangani masalah masalah tersebut.
3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
http://community.cochrane.org/about-us/evidence-based-health-care.
Florida State University.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar